Nganggur Dan Kebangkitan Bangsa di Indonesia

ICT

 
Oleh : Special Bee*

“ Kisah sedih di hari nganggur, tak ingin kulupakan”, By Marsando RSJ

Kisah dan alkisah sedih para pencari kerja di luar negeri semakin banyak diberitakan, namun mereka tidak “kapok-kapok” untuk mengadu nasib di tanah rantau. Di dalam negeri, mereka harus bersaing dengan para “Pengganguran Melek dan Intelek” yang sudah banyak masuk wilayah perang pencari kerja domestik. Negara, tiada dana untuk menggulurkan uang tunjangan untuk pengganguran, dan bahkan tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang layak, sementara kebutuhan hidup jalan terus pantang mundur. Tidak ada jalan lain kecuali harus bekerja. Salah satu pilihannya, bekerja di luar negeri meski dengan status “kuli”.

Kegagalan pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan di negeri sendiri seharusnya dibalas dengan memberi perhatian ekstra terhadapa TKI. Para TKI diberi perlindungan hukum dan rasa aman. Jutaan TKI dibeberapa Negara masih terus mendapat ancaman deportasi( istilahnya “ditendang paksa” gitu dech”), baik karena tidak memiliki dokumen resmi maupun melampau massa izin tinggal atau overstay. Di Arab Saudi saja tidak kurang dari 40.000 TKI dan di Malaysia sekitar 800.000 TKI itupun belum termasuk TKI-TKI yang masuk lewat jalan belakang ( Back_____Do000000or_ahhhhhhh mati akuuuuuu ). Tragedi-tragedi kekerasan yang berulang-ulang terjadi pada TKI, bahkan sebagian kita dengar meninggal dunia, mengindikasikan Negara begitu menggangap gampangnya masalah tersebut. eksistensi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ( BNP2TKI) sebagai lembaga yang berada langsung di bawah presiden, dengan wewenang dan tanggung jawab begitu besar, belum menunjukkan efektivitas dan giginya( OMPONGKAH ?).

Dalam pidatonya, presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan berbagai perubahan dan perkembangan yang telah diraihnya. Namun publik kurang percaya data tersebut( Takut diada-adakan bin sabotase, mungkin). Selain karena pemerintah sudah BERPENGALAMAN dalam hal keliru terkait angka-angka ekonomi, terutama soal pengganguran dan kemiskinan, data tersebut tidak sebanding/sepenting dengan realitas yang diharapkan. Fakta lapangan masih sangat jauh dari janji pemerintah. Jarak antara kaum miskin dan Kaya semakin melebar di masyarakat. Pangemis dari waktu ke waktu baik itu jenis yang biasa-biasa saja, nekat ataupun pengemis yang nyambi menjadi Maling semakin menjalar ke banyak lokasi. Pengangguran banyak menyusul karena penyakit bebuyutan para pekerja yang tidak ada obatnya,tidak lain dan tidak bukan adalah PHK apalagi itu diiringi kata MASSAl di belakangnnya. TAMBAH PARAH ;-)
 
Perbaikan seperti di ungkap Presiden belum menyentuh kehidupan mereka. Mereka masih tetap susah untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tingkat daya beli masyarakat pun semakin rendah, apalagi ditambah dengan kebijakkan pemerintah menaikan Harga BBM(mana tahan diganti dengan BLT doang, mie beberapa bungkus, minyak goring sebotol, ama uang 100rb, nggak ada orang yang bisa hidup seperti itu sebulan) plus naiknya harga kebutuhan pokok gara-gara kenaikan tersebut. Sementara itu, walaupun ada sedikit kemajun dari sektor pertanian, investasi di Indonesia tidak mengalami peningkatan.
UKM sebagai tulang punggung ekonomi bangsa yang diharapkan bisa menyerap tenaga kerja, juga tidak mau kalah LESUnya. Padahal lebih dari 40 juta jiwa penduduk Indonesia menggantungkan harapan pada usaha menegah dan kecil. Program pemerintah yang mewajibkan BUMN untuk menyisihkan cuma SATU hingga TIGA persen keuntungannya untuk pemerdayaan UKM bukan hanya kurang maksimal( baca: kurang banyak) tapi sudah tidak terdengar lagi kelanjutannya.

 
 Pandangan tentang pembangunan kita pun kontra terhadap kenyataan. Disatu sisi, kelihatan optimisme Negara dalam berupaya mempertahankan stabilitas sambil mengenjot angka perumbahan ekonomi. Di sisi lainnya, Negara tanpa ragu-ragu mengorbankan rakyatnya, karena kebijakkan pencabutan subsidi.

Menurut james O’Connor(1973), Negara memiliki dua peran ganda, akumulasi dan legitimasi. Negara aktif menciptakan “ Donat-donat ekonomi “ dan sekaligus aktif membagi “Donat-donat ekonomi” tersebut. Memberi rakyat BLT yang justru melestarikan budaya malas di masyarakat(menurutku sich), tetapi pemberdayaan ekonomi masyarakat yang digagasnya sendiri dan optimasi pembangunan sektor-sektor penting di masyarakat yang bisa menampung tenaga kerja sebanyak mungkin. Negara harus konsisten dalam sektor ini, agar tidak dianggap gagal dalam mengurus rakyatnya sendiri. Sebagaimana peringatan, Francis Fukuyama mengatakan bahwa ancaman terbesar bagi umat manusia pada awal abad 21 adalah gejala politik di mana Negara sebagai institusi terpenting dalam masyarakat gagal dalam menjalankan perannya.
 
  Semangat optimis(Optimize Spirit ) yang kuat dan didukung dengan kepercayaaan public menjadi modal sosial yang diharap-kan pemerintah bisa mengubah kondisi menjadi lebih baik dan mengejar target yang strategis. Apalagi pemerintah kita sudah menargetkan penurunan pengangguran sampai 5.1% hingga 2009 sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Panjang ( RPJMP). Apalagi tahun 2009 terdapat momentum politik yang mengharuskan pemerintah memperbaiki citranya.
  Elite politik sudah seharusnya berpikir untuk kepentingan publik. Kesungguhan dan keikhlasan pemerintah mengrus Negara ini sangat diharapakan betul bisa memberikan manfaat yang berarti bagi masyarakat. Kedaulatan sesungguhnya yang mereka miliki telah diserahkan dengan jaminan mereka bisa diurus dan dikawal untuk mewujudkan kesejahteraan yang dicita-citakan.

Penulis adalah penulis diblog ini.
 Nah, bagi yang mau menanggapi, memberi saran atau kritik baik yang pedas atau manis eiit jangan yang asam ya. Monggo komentar di bawah >>>